(TOBELO-SYALLOMNEWS) – Warga Kota Tobelo kini harus bernafas dengan asap. Kamis (8/10/2026) pagi, kabut tebal bercampur asap menyergap pusat kota. Jarak pandang anjlok hingga hanya 100 meter. Pulau-pulau kecil di depan Tobelo yang biasanya terlihat jelas, Rabu kemarin sudah hilang tertutup kabut.

Ini bukan sekadar kabut biasa. Ini adalah kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membakar Halmahera Utara berbulan-bulan.

Alarm bahaya kesehatan sudah berbunyi. Partikel halus dari asap karhutla mengancam paru-paru anak-anak, lansia, dan penderita asma. BMKG jauh-jauh hari sudah mengingatkan, asap ini meracuni udara dan membunuh jarak pandang.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halut yang diungkap Kepala BPBD Hentje M. L. Hetharia pada September lalu sungguh mencengangkan. Sedikitnya 508,6 hektare lahan di 16 dari 17 kecamatan di Halut ludes terbakar. Itu data minimal dari 69 desa dengan 120 titik api.

“Angka itu masih minimal. Pantauan satelit menunjukkan titik panas jauh lebih banyak,” kata Hentje saat itu.

Lahan yang terbakar bukan di tempat jauh. Titik api terbanyak justru mengepung Tobelo: Tobelo Timur, Tobelo Selatan, Kao, Kao Utara, Kao Barat, hingga Malifut.

Ironisnya, sebagian besar kebakaran dipicu ulah manusia. Pembukaan lahan dengan cara dibakar, termasuk kebiasaan membakar daun kelapa kering yang tidak terkendali, menjadi biang kerok.

Kini, setelah berbulan-bulan desa-desa yang terbakar, giliran warga kota yang merasakan akibatnya. Asap yang dulu hanya di kebun, sekarang sudah masuk ke ruang tamu warga di pusat Tobelo.

Warga mulai geram. Mereka mendesak Pemda Halut tidak hanya sibuk memadamkan api di hutan, tapi juga melindungi warga kota dari dampak asap.

“Bagikan masker, siapkan posko kesehatan. Jangan tunggu warga sesak nafas dulu,” keluh seorang warga Tobelo Tengah.

Jika hujan tak segera turun dan pembakaran lahan tak dihentikan, Tobelo terancam berkabut lebih lama

By Admin