(TOBELO-SYALLOMNEWS) Kepada Ibu Afrida Ngato, Sangaji Pagu yang kami banggakan 🙏✨
Saya menulis ini sebagai anak dari tanah Tanimbar, dengan keyakinan yang mungkin berbeda, namun hati yang sama — sama-sama lahir dari bumi leluhur, sama-sama menjaga apa yang Tuhan titipkan kepada nenek moyang kami.
Saya mengapresiasi Ibu dengan segenap rasa hormat. Ibu tidak berdosa. Ibu hanya memegang teguh hak yang Tuhan sendiri tanamkan di dalam setiap jengkal tanah itu: bahwa tanah yang dilangkahi adalah milik seluruh anak cucu, bukan milik satu orang saja untuk diambil sesuka hati. Hanya seonggak batu dari tanah Ibu sendiri — dari tanah tempat Ibu lahir, tempat leluhur beristirahat — justru itulah yang menjadi alasan Ibu dihadapkan pada hukum.
Di mata kami, itu bukan kejahatan. Itu adalah tanda cinta kepada tanah air sendiri. Itu adalah suara yang lantang: tanah punya pemilik sejati, dan kami tidak akan diam ketika itu diinjak-injak.
Perbedaan agama dan keyakinan (Saya seorang Katolik dan Ibu seorang protestan) tidak pernah memisahkan kami sebagai anak adat. Di atas bumi ini, kami semua dipanggil untuk menjaga apa yang dipercayakan kepada kami. Ibu berjuang bukan untuk kejahatan, melainkan untuk kebenaran dan martabat yang semakin hari semakin tergerus.
Jangan goyah, Ibu Afrida. Di ujung timur yang lain — di tanah Tanimbar — kami berdiri di samping Ibu. Kami melihat, kami mengerti, dan kami bangga. Langit tidak membeda-bedakan anak yang berjuang menjaga warisan leluhur. Kebenaran punya waktu sendiri untuk bersinar, dan batu yang diambil dari tanah Ibu itu akan menjadi saksi bahwa Ibu tidak pernah salah.

Tetap tegak, Sangaji Pagu. Kami bersama Ibu.
DOMINIC RATUANAK (Pemuda adat Tanimbar dan beragama Katolik)