Klinik Hohidiai Kusuri yang sudah seperti rumah tak bertuan

(TOBELO –SN)  Bagi warga Halmahera utara, nama Klinik Hohidiai yang terletak di Desa kusuri sudah bukan nama  asing lagi. Klinik yang lebih dikenal dengan nama “rumah sakit bule bule” sangat banyak melakukan bantuan dalam hal kesehatan kepada warga yang berobat pasca kerusuhan horizontal tahun 2000an lalu.

Warga yang sakit mendapat penanganan dengan pelayanan gratis diberikan oleh pengurus klinik ini. Bahkan orang orang yang terindikasi sakit HIV/AIDS pn sudah cukup banyak yang dilayani di klinik ini.

Tapi sayangnya, saat ini keberadaan dan eksistensi “klinik bule bule” ini seperti sudah mati. Aktifitasnya sudah tak erlihat. Gedung yang sangat luas seperti sudah tak terurus. Malah beberapa pasien yang coba berkunjung untuk mendapatkan pelayanan kesehatan seperi dulu, tak mendapatkan pelayanan apapun.

“Saya dari Malifut datang ke sini msu berobat seperti dulu. Tapi pintu pagar sudah terkunci. Sepertinya klinik ini sudah tak ada aktifitas lagi” kata Yeremias Watui yang ditemui Syallomnews didepan klinik ini Jumat lalu.

Hal yang sama juga diungkapkan Since Ova, warga Tobelo tengah yang gagal mendapatkan pelayanan dari dokter di klinik ini karena saat ibu ini  bersama anaknya datng, pintu klinik terkunci rapat.

“Dari dulu torang biasa berobat di sini. Bagus depe dokter dengan tara bayar lagi. Tapi sayang sekali e sekrang ini so tara aktif ini klinik tuh. Semoga pemda Halut bisa beri perhatian supaya klinik ini bisa beroperasi  lagi seperti dulu” ujar Since dengan raut wajah sedih.

Syallomnews sudah mencoba menggali informasi soal eksistensi klinik Hohidiai ini di sejumlah pengurus yayasan, tapi sampai hari ini informasi jelas belum diperoleh.

Melalui alah satu perintis awal berdirinya  yayasan Hohidiai ini, Pdt Rudy William Tindage, M Teol Syallomnews mendapat informasi singkat jika mereka pun sudah tak erlalu tahu keberadaan yayasan ini dengan asset assetnya.

‘Kami hanya dapat informasi jika ada rencana pengurus yayasan Hohidiai akan memindahkan home base pelayanan kliniknya ke Bali atau Sumba. Ini sangat disayangkan sekali. Apalagi yayasan Hohidiai punya asset yang cukup banyak. Nanti kami akan mengecek status pengurus yayasan ini sudah seperti apa saat ini” katanya.

Pdt Rudy berharap agar klinik Hhidiai yang sudah cukup lama membantu masyarakat Halmahera dalam hal kesehatan agar tetap dicegah untuk dipindahkan ke daerah lain dengan asset assetnya.

“Kami para perintis Hohidia dan mantan pengurus berharap pemerintah daerah ikut mencegah jika ada rencana pengurus yayasan yang sekarang ingin memindahkan klinik ini ke daerah lain di luar Halmahera” kata wakil ketua KPID aluku utara ini (kng6)

By Admin