atgaswil Maluku Utara Densus 88 AT Polri, pada hari Selasa 16 Desember 2025 Melaksanakan kegitan Sosialisasi Pencegahan Radikalisme dan Kekerasan Lewat Daring, kepada Siswa -Siswi, SMP NEGEREI 2 KOTA TERNATE
Di mana kegiatan sosilaisasi tersebut di buka oleh kepala sekolah SMP N 2 KOTA TERNATE Ibu Nuthayati Pandawa dan juga di ikuti oleh Guru-Guru SMP N 2 KOTA TERNATE.
Pemberian materi , di berikan oleh IPDA ADHY RAHMANSYAH M, S.H., M.H. selaku Katim Pencegahan Satgaswil Maluku Utara Densus 88 AT Polri.
Dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi tersebut, di ikuti oleh seluruh siswa dan Guru SMP negeri 2 Kota Ternte.
Adapun tema dari kegiatan sosialisasi di atas adalah “TENTANG BAHAYANYA PAHAM IRET DAN BULLYING DI LINGKUNGAN SEKOLAH”
Dimana yang menjadi inti dari penyampaian materi dalam kegiatan sosialisasi tersebut adalah, bgmna anak² dan para guru mengerti tentang apa itu Radikalisasi, gejala, serta bahaya dan pencegahannya.
Densus 88 Antiteror Polri memperingatkan meningkatnya kerentanan anak-anak terhadap paparan paham radikal di era digital.
IPDA ADHY menegaskan bahwa upaya pencegahan kini menjadi fokus utama Densus 88 AT Polri
“Selama ini fokus kami lebih banyak pada penegakan hukum. Namun sekarang, pendekatan pencegahan harus dikedepankan. Karena itu kami memperkuat sosialisasi di berbagai lingkungan masyarakat, termasuk SMP, SMA, hingga perguruan tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, sosialisasi dilakukan sebagai bentuk “MEMBERIKAN PEMAHAMAN BAHAYANYA PAHAM IRET DAN BULLYING” bagi masyarakat. Langkah ini untuk memastikan orang tua, guru, murid, dan masyarakat memahami pola kelompok radikal yang menyasar lingkungan pendidikan.
“Melalui edukasi dan sosialisasi mereka bisa mengetahui bagaimana paham radikal bekerja dan seperti apa bentuk doktrinnya. Dengan begitu, tumbuh ketahanan dalam diri para siswa maupun para guru untuk menolak paham tersebut,
Terkait potensi penyebaran paham radikal di Maluku Utara, khususnya Kota Ternate, IPDA ADHY menyebut peluang itu tetap ada. Perkembangan teknologi membuat ruang gerak penyebaran semakin luas.
“Kalau dulu perekrutan dilakukan tatap muka, sekarang kelompok radikal bergerak bebas di dunia digital untuk menyebarkan ajaran dan merekrut anggota baru,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya pengawasan Guru dan Orang Tua, terutama kepada anak-anak yang kini menjadi kelompok paling rentan. Banyak kasus menunjukkan paparan justru terjadi di rumah, saat anak menggunakan gawai tanpa pengawasan orang tua.
“Radikalisme banyak masuk melalui game online dan platform digital lainnya tanpa disadari. Karena itu, pengawasan terhadap HP anak sangat penting,” tegasnya.