Fortifaib manihing saat masih bekrja sebagai karyawan NHM dngan posisi terahir Penasehat Presdir

Dua puluh satu tahun masa muda dan tenaga Pak Forty Manihing diabdikan penuh setia di bawah naungan korporasi pertambangan, PT. NHM. Seragam dan helm keselamatan yang dulu menjadi simbol kebanggaan, kini berganti cangkul di terik perkebunan. Di usia senja yang seharusnya menjadi waktu untuk menikmati buah kejujuran, beliau justru harus kembali memeras keringat di atas tanah perkebunan hanya agar dapur rumahnya tetap mengepul. Keringat dan loyalitas puluhan tahun itu dibalas dengan kepahitan yang memutus harapan: 12 bulan gaji yang tak kunjung dibayar, serta 36 bulan pesangon pensiun yang terus digantung tanpa kepastian.

Akibat kendala keuangan, ia beralih profesi menjadi seorang petani saat ini

Sungguh sebuah ironi yang merobek nurani. PT. Nusa Halmahera Mineral (PT. NHM) ini dengan megah menandatangani MoU bersama Pemerintah Daerah untuk membangun rumah sakit megah senilai 200 miliar rupiah, belum lagi gelontoran dana bantuan publik kesana-sini. Namun, di balik kemewahan citra dan angka-angka fantastis itu, ada jeritan sunyi eks karyawan yang hak-hak dasarnya justru diabaikan. Bagaimana mungkin sebuah rumah sakit bernilai ratusan miliar didirikan di atas penderitaan orang-orang yang pernah membesarkan perusahaan itu sendiri?

Saat kesulitan keuanagan, ia berusaha membawa cucunya berobat di manado

Di balik senyum ketegaran Pak Forty saat memeluk erat sang ibu yang telah lansia, ada badai duka yang meremukkan dadanya setiap hari. Rumahnya tak lagi menjadi tempat bernaung yang tenang. Sang istri terbaring lemas, raga dan jiwanya terhempas depresi serta sakit asam lambung akibat tekanan hidup yang tak kunjung usai. Cita-cita mulia untuk melahirkan generasi terdidik pun patah di tengah jalan; sang anak harus merela memutus asa dan mundur dari bangku kuliah karena tak ada lagi biaya untuk melunaskan impian masa depannya.

Anaknya yang kuliah di Univrsitas Telkom Bandung harus putus kuliah

Namun rasa sakit yang paling menikam terjadi ketika sang cucu tercinta harus berjuang di atas ranjang pesakitan. Berulang kali kemoterapi dijalani dengan sisa-sisa harapan dan doa di tengah keterbatasan finansial yang mencekik. Keluarga berjuang di batas kemampuan, berharap sang buah hati bisa kembali pulang dengan tawa sehatnya. Namun takdir mengetuk terlalu cepat; di depan peti jenazah berwarna putih, tangis keluarga pecah melepas sang malaikat kecil berpulang ke pangkuan Bapa di Sorga.

Isterinya juga alamai depresi brkepanjangan dan harus dirawat berulang ulang

Kisah Pak Forty hanyalah satu dari sekian banyak cermin retak kehidupan para eks karyawan yang haknya ditahan bertahun-tahun. Di manakah letak keadilan dan empati korporasi? Pembangunan fasilitas megah tidak akan pernah sanggup menutup duka dan dosa sosial atas hak-hak manusia yang terabaikan. Bayarkan hak Pak Forty, tuntaskan kewajiban kalian, sebelum jeritan sunyi keluarga korban menjadi saksi abadi atas ketidakadilan yang tak terselesaikan.

By Admin