Tabea, hormat kami untuk Tetua Adat dan seluruh Tokoh Masyarakat Lingkar Tambang. Merespons imbauan Kamtibmas dari Orang-orang Tua kami dari Suku (Pagu, Modole, Towiliko, Boeng) mengenai pentingnya menjaga Kamtibmas, Kami menyambut baik dan memberikan penghormatan setinggi-tingginya. GEMPUR menegaskan komitmen: Keamanan dan keselamatan tanah adat adalah hukum tertinggi bagi kami. Perlu kami sampaikan kepada seluruh masyarakat, rencana aksi demonstrasi GEMPUR hari ini kami tunda sementara waktu. Musim kemarau panjang saat ini sedang mengancam terjadinya kebakaran di kebun-kebun warga. Sebagai anak-anak adat yang hidup dari tanah ulayat, kawan-kawan fokus mengamankan tanaman dan ruang hidup dari bahaya api. Sikap ini menguatkan identitas kami: bahwa GEMPUR adalah anak-anak kandung adat yang sangat menghormati alam, serta senantiasa tunduk pada petunjuk alam dan Sang Kuasa. Jika alam memberi isyarat untuk menjaga kebun hari ini, kami surut sejenak demi menjaga tanah Ulayat. Namun ingat, jika alam sudah memberikan sinyal dan izin, maka siap tidak siap, GEMPUR akan kembali bergerak menggelar aksi besar-besaran! Orang tua-tua kita telah menggariskan empat falsafah luhur yang menjadi urat nadi kehidupan: Odora, Opaliara, Oleliane, dan Oadil. Mari kita selami bersama:
- Odora: Di mana rasa kasih sayang korporasi ketika membiarkan eks karyawan menangis karena pesangon tak dibayar, dan gaji pekerja disunat, serta menunggak utang vendor lokal?
- Opaliara: Di mana kepedulian PT. NHM merawat ruang hidup dan warga lingkar tambang, saat program PPM jelas-jelas ketidakjelasannya?
- Oleliane: Bukankah aksi GEMPUR adalah wujud saling mengasihi dan merangkul sesama anak adat yang sedang terzalimi?
- Oadil: Bagaimana Kamtibmas bisa tercipta jika keadilan dicabik-cabik oleh korporasi yang menahan hak-hak rakyat?
GEMPUR tidak pernah berniat membuat keonaran. Pemicu utama yang mengganggu ketenteraman tanah adat adalah PT. NHM yang menahan gaji dan pesangon, menunggak utang vendor lokal, dan ketidakjelasan PPM. Adat adalah Pengayom Rakyat: Marwah lembaga dan simbol adat sejatinya ada pada perlindungan terhadap anak cucunya yang terzalimi, bukan menjadi tempat berlindung bagi korporasi yang menunggak kewajiban. Karena itu harapan kami, para Tetua Adat: Terapkan empat nilai luhur ini untuk menekan PT. NHM! Berdirilah di depan bersama anak cucu adat, panggil manajemen perusahaan, dan desak mereka melunasi seluruh kewajibannya. Jika keadilan ditunaikan, maka demi alam dan leluhur, tanah adat ini akan penuh kedamaian dan ketentraman