Di ufuk timur Pulau Rao, terhampar sebuah kampung bernama Posi-Posi Rao. Kampung kecil yang dikelilingi laut biru dan udara yang masih segar itu, kini mulai mendapat perhatian dalam peta pembangunan Kabupaten Pulau Morotai. Pulau Rao, dengan segala kekayaan laut biru dan udara yang masih segar itu, kini mulai mendapat perhatian dalam peta pembangunan Kabupaten Pulau Morotai.
Pulau Rao, dengan segala kekayaan laut dan budayanya, tengah dipersiapkan menjadi pusat pertumbuhan baru. Namun, denyut harapan itu terasa paling kuat dari Posi-Posi Rao. Di sinilah, semangat membangun dan menjaga warisan leluhur bertemu dengan tekad menciptakan masa depan yang lebih baik.

Tokoh muda Morotai, Joni Muda, S.H., M.H., yang lahir dan besar di Posi-Posi, menyampaikan pesan yang penuh makna. “Bagi saya, Posi-Posi bukan sekadar kampung halaman. Ia adalah jiwa dan nafas yang memberi arah. Jika Posi-Posi bangkit, maka Rao ikut bangkit, dan Morotai akan berdiri lebih tegak,” ujarnya dengan nada optimis.
Pembangunan yang digagas mencakup pemberdayaan sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, serta peningkatan infrastruktur. Di Posi-Posi, laut menjadi sahabat utama. Nelayan berlayar bukan hanya untuk mencari ikan, tetapi juga untuk menjaga tradisi dan harapan keluarga. Potensi wisata bahari pun menunggu untuk disentuh, agar kampung ini tak hanya dikenal oleh ombaknya, tetapi juga oleh dunia luar yang datang berkunjung.

Di antara keindahan alam Posi-Posi, ada satu pesona yang kerap membuat takjub: Batu Kopi. Batu besar berwarna gelap yang berdiri kokoh di pesisir itu tampak biasa di siang hari, namun menyimpan keajaiban di sore hari. Setiap pukul 17.00 hingga 19.00, dari sela-sela batu keluar aroma kopi yang harum dan menenangkan, seolah alam sendiri sedang menyeduh minuman bagi para pengunjungnya. Fenomena unik ini diyakini akan menjadi ikon mancanegara, sebab hanya di Posi-Posi aroma kopi alami dari batu dapat dinikmati setiap hari.

Fokus pembangunan juga diarahkan pada infrastruktur. Akses transportasi, listrik, air bersih, dan jaringan internet akan menjadi nadi yang menghubungkan Posi-Posi dengan desa-desa lain, membuka jalan bagi perdagangan, pendidikan, dan kemajuan sosial.
Di balik itu, Joni Muda mengingatkan agar pembangunan tidak melupakan keseimbangan alam. “Laut kita adalah pusaka, pesisir adalah beranda rumah kita. Mari kita bangun dengan hati, tanpa merusak, agar anak cucu kelak masih bisa melihat keindahan Posi-Posi seperti hari ini,” tambahnya.
Kini, Posi-Posi Rao berdiri sebagai simbol harapan. Dari kampung kecil ini, semangat besar digelorakan: membangun Rao, membangkitkan Morotai, dan menjaga Indonesia dari tapal batasnya.
“Posi-Posi adalah mutiara yang belum sepenuhnya dipoles. Bila dikelola dengan bijak, ia akan bersinar terang, menjadi ikon baru Morotai, dan Batu Kopi akan membawa harum nama kampung kita hingga ke mancanegara,” pungkas Joni Muda penuh keyakinan