Joni Muda SH MH

Ketika berbicara tentang pembangunan desa, banyak orang langsung membayangkan infrastruktur: jalan mulus, jembatan kokoh, atau gedung baru. Semua itu penting, tetapi saya percaya inti dari pembangunan sejati terletak pada manusianya. Desa Posi-Posi Rao tidak akan pernah benar-benar maju bila sumber daya manusianya tertinggal.

Sebagai putra daerah, saya melihat satu hal mendasar: masa depan Posi-Posi Rao bergantung pada keberanian kita berinvestasi pada SDM hari ini. Pendidikan harus menjadi prioritas mutlak. Tidak boleh ada anak desa yang berhenti sekolah hanya karena keterbatasan biaya atau akses. Lebih dari itu, generasi muda perlu dibekali keterampilan sesuai potensi desa: pertanian modern, perikanan berkelanjutan, pengolahan hasil bumi, bahkan literasi digital agar bisa memasarkan produk lokal ke luar daerah.

Yang sering dilupakan adalah: sumber pendanaan untuk pelatihan SDM sebenarnya tersedia di desa sendiri, melalui Dana Desa. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, khususnya Pasal 72 ayat (1) yang menegaskan bahwa Dana Desa digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Bahkan lebih diperjelas lagi dalam Permendesa PDTT Nomor 7 Tahun 2021 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa, di mana pemberdayaan masyarakat termasuk pelatihan, kursus, dan peningkatan kapasitas warga desa.

Dengan demikian, program peningkatan SDM bukan hanya sebuah gagasan idealis, melainkan amanat regulasi yang memang sudah diperbolehkan oleh negara. Selama direncanakan melalui musyawarah desa dan dituangkan dalam APBDes, pelatihan keterampilan, kursus, hingga program literasi digital bisa langsung dijalankan tanpa menunggu bantuan dari pihak luar.

Saya membayangkan dalam lima tahun pertama, Posi-Posi Rao mampu melahirkan putra-putri profesional. Pemuda-pemudi tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Dalam sepuluh tahun ke depan, saya yakin Posi-Posi Rao bisa melahirkan generasi sarjana yang kembali untuk membangun desa, membawa ilmu, pengalaman, dan jaringan yang mereka peroleh di luar. Bayangkan jika produk unggulan kita—hasil laut, pertanian organik, atau kerajinan tangan—bisa dikenal hingga pasar regional bahkan nasional.

Dampaknya tidak kecil. Urbanisasi akan berkurang karena pemuda bangga tinggal dan berkarya di desa. Kesejahteraan meningkat karena ekonomi tidak lagi bergantung semata pada bantuan. Yang lebih penting, desa kita akan dikenal sebagai desa yang mandiri, berdaya saing, dan berdaulat atas masa depannya sendiri.

Membangun SDM memang pekerjaan panjang, mungkin melelahkan, tetapi inilah jalan satu-satunya jika kita ingin Posi-Posi Rao berdiri sejajar dengan desa-desa maju lainnya. Saya percaya, dengan tekad bersama dan pemanfaatan Dana Desa yang tepat sasaran, desa kita tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga akan tumbuh menjadi desa harapan bagi generasi mendatang.

By Admin