Spread the love

Dalam aktifitas Politik selama belasan tahun, penulis sempat berteman dengan orang orang tertentu yang kemudian bernasib baik dan menjadi kepala daerah.Fasilitas sebagai  Gubernur, Bupati atau Walikota ataupun sebagai wakilnya, selama beberapa waktu mereka sempat nikmati. Tapi sayangnya, ahir tragis dari perjalanan karir mereka berujung di balik jeruji. Ada yang karena korupsi, suap atau juga tindak pidana lainnya.

Penulis beberapa kali sempat mengunjungi mereka sebagai tanda ikut prihatin dan beri dorongan untuk dapat terus kuat menjalani hidup selanjutnya. Unik sekali, saat penulis bertanya kepada mantan kepala daerah ini, siapa saja orang orang yang sudah sempat membesuk mereka di tempat itu ? jawaban mereka sungguh sangat mengagetkan. “Hanya keluarga kami saja yang bersedia datang mengunjungi kami di lapas ini”, demikian kata mereka. Penulis coba menggali info lanjut. Apakah orang orang yang pernah mereka angkat dulu menjabat sebagai kepala Dinas atau orang orang yang menjadi team sukses dan diberikan hadiah proyek, ada datang mengunjungi mereka di tempat ini. Ternyata jawabannya, tidak sama sekali.

Mantan Walikota di Sulsel yang penulis kunjungi saat lebaran lalu berkata, “Pak, Egbert biasa itu. Habis manis sepah dibuang. Beda dengan keluarga, tidak ada istilah itu. Karena kami punya ikatan darah yang tidak akan mungkin diganti dengan uang, jabatan dan proyek”.

Istilah “habis manis sepah dibuang” memang sudah menjadi bagian hidup manusia. Hampir di semua lini ia ada. Termasuk juga dalam dunia Politik dan pemerintahan. Sehingga jangan heran, seseorang yang sudah tidak punya kekuasaan pasti secara otomatis akan ditinggal oleh orang orang dekatnya. Termasuk oleh orang orang yang pernah diberi jabatan, kedudukan dan proyek proyek pemerintah.

Seorang mantan Bupati di Sulsel yang menjadi teman penulis, meninggal dunia dalam kondisi yang sangat memprihatinkan sekitar 10 tahun lalu. Seluruh hartanya ludes untuk biaya pengobatan. Sampai akhirnya ia meninggal di rumah pribadinya di salah satu dusun kecil di Takalar. Ia dipulangkan keluarganya untuk berobat kampung karena sudah tidak ada uang lagi untuk biaya pengobatan.

Dalam sebuah kunjungan ke rumahnya saat ia belum meninggal dunia  penulis bertanya kenapa ia tidak  terus saja dirawat di rumah sakit. Ia menjawab biaya sudah tidak ada. Penulis terus mengejar info. “Lho, khan dulu bapak pernah kasih hadiah jabatan kepala dinas atau kasih proyek ke teman teman kontraktor, kog tidak ada yang ingat jasa bapak lagi di saat sakit parah begini ?” Ia menjawab. Itulah sifat manusia. Kalau sudah tidak ada kekuasaan seperti ini, siapa lagi yang mau perhatikan ?

Teman mantan Bupati ini malah berkata kalau selama ia sakit empat bulan di rumah sakit Wahidin Makassar  itu justeru keponakan dan ipar iparnya yang ada di Papua dan Kalimantan yang selalu mengirimkan uang untuk pengobatannya. Keponakannya yang waktu ia sudah berpangkat IV A itu minta pindah ke Papua saat ia menjabat Bupati. Alasannya, sang paman yang menjadi Orang nomor 1 di kabupaten itu sama sekali “tidak mempedulikannya” karena takut mendapat sorotan orang. Padahal saat itu sang keponakan sudah sangat layak menjadi kepala Dinas. Demikian juga dengan adik iparnya. Ia seorang kontraktor yang ahirnya harus “lari” ke kalimantan mengadu nasib. Sebabnya ? kakak iparnya yang sebenarnya punya power untuk berbagi sejumlah proyek di kabupaten itu, malah cuek dengan perusahannya.  Lebih banyak proyek proyek APBD diberikan kepada teman temannya dibanding keluarga.

Nanti giliran ia sakit dan butuh bantuan, barulah keluarganya yang dulu ia tidak pedulikan, yang justeru paling setia menolongnya. Malah mereka tidak pernah berhenti mengirim uang pengobatan sampai ia menghembuskan nafas terahirnya.

Penulis masih sangat ingat kata kata mantan Bupati ini saat perjumpaan terahir kami di sekitar bulan Ramadhan tahun 2006 itu. Ia berucap begini :” Kalau tahu seperti ini, kenapa dulu saat saya menjabat sebagai Bupati, saya tidak angkat saja keluarga keluarga saya dan berikan proyek saja kepada keluarga. Toh pada ahirnya dalam keadaan susah seperti ini, hanya keluarga yang bisa perhatikan saya”. Tapi semuanya sudah terlambat. Nasi sudah jadi bubur.

Hubungan keluarga itu terjadi pasti karena ada pertalian darah. Ketika ada kesamaan darah dari orang tua di atas kita maka kita akan dapat disebut bersaudara. Kitab Suci (Kristen) berkata dalam darah ada kehidupan. Sehingga sesungguhnya hubungan keluarga karena pertalian darah itu tidak akan pernah putus atau mati. Sejelek jeleknya keluarga kita, penulis yakin kita tidak akan bisa menyangkali kalau itu keluarga kita. Mulut mungkin bisa tidak mengakuinya. Tapi pertalian darah yang ada di antara keluarga itu akan tetap hidup.

Pengalaman mantan kepala daerah teman penulis tadi menjadi contohnya. Orang lain boleh melupakan jasa baik sang kepala daerah saat ia masih berkuasa. Tapi tidak demikian dengan keluarga sang kepala daerah itu. Sekalipun saat mereka lagi berkuasa, mereka tidak peduli dengan keluarganya. Tapi justeru saat dalam keadaan susah. Hanya kelaurgalah yang akan datang memberi pertolongan dan penghiburan.

Karena ada kehidupan dalam darah, maka pertalian darah itu akan sangat kuat mengikat. Orang bisa melakukan apa saja ketika ada saudara sedarahnya terancam atau terusik. Ketika ada keluarga kita yang pertalian darah sakit, secara naluriah bawaan kita sebagai saudara juga akan merasa seperti menanggung sakit yang sama. Atau saat keluarga kita sedang mengalami tekanan yang sangat berat, secara manusiawi kita yang punya pertalian darah dengan keluarga itu spontan juga akan merasakan tekanan yang sama. Sehingga kita akan bersedia berkorban dan melakukan apa saja untuk ikut meringkan penderitaan keluarga itu. Sekali lagi, ini terjadi bukan karena ada kepentingan lain di balik itu.

Penulis pernah mengalami hal serupa. Saat ada keluarga penulis yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah, ada sejumlah black campgin (Kampanye hitam) yang disebarkan timses kandidat lain. Mereka bilang, calon kepala daerah yang adalah keluarga penulis itu : Penyakitan, calon miskin tidak ada uang, sifat pendendam, pernah korupsi saat jadi pejabat dulu dll. Bagi penulis ini adalah perbuatan sangat keterlaluan yang bukan saja mempermalukan calon kepala daerah itu tapi juga bagi penulis dan keluarga besar.

Darah yang mengalir dari orang tua kami sama sehingga cercaan, hinaan dan kampanye hitam itu juga menyakiti hati penulis. Spontan menyadari akan talenta yang dimiliki. Penulis berinisiatif menerbitkan sebuah surat khabar lokal. Tanpa perlu berkordinasi dengan sang calon kepala daerah, team sukses dll. Tanpa perlu meminta uang dari bendahara Timses. Penulis, dengan darah yang “mendidih akibat kemarahan” membuat tulisan tulisan yang isinya membantah semua tuduhan keji itu. Tidak tanggung tanggung sampai ribuan dicetak. Dan digabi gratis lagi. Sampai tiga edisi. Dengan biaya sendiri yang mencapai belasan juta rupiah saat masa kampanye itu. Penulis tidak bermimpi dengan melakukan hal itu kemudian akan dihargai dengan menjadi kepala Dinas dll kemudian. Tapi sekali lagi, ikatan kesamaan darah itu yang hidup di dalam kami sampai membuat penulis begitu “nekad berkorban”.

Hal yang sama juga rupanya dilakukan keluarga penulis saat masyarakat datang meminta bantuan sesuatu. Mereka berpikir, karena keluarganya mencalonkan diri jadi kepala daerah maka permintaan itu bisa dilakukan kepada saudara saudaranya. Mereka juga mengeluarkan duit tanpa perlu meminta kepada bendahara timses.

Dari segi loyalitas, ikatan darah akan lebih kuat. Hal ini diakui benar oleh mantan presiden AS Barack Obama. Saat ia menempatkan beberapa keluarga dekatnya dan keluarga isterinya dalam posisi strategis di pemerintahan periode kedua, kepada wartawan CNN waktu itu ia berkata “Selama tidak melanggar aturan, kenapa saya tidak lakukan itu ? Toh dari segi loyalitas, pasti keluarga saya lebih dapat dipercaya dibanding team sukses sekalipun”. Ini pernyataan pemimpin di sebuah negara demokrasi  tertua di dunia lho !

Penulis sangat heran, jika ada banyak suara bernada miring saat seorang kepala daerah yang baru terpilih mengangkat saudara dan keluarganya yang satu marga untuk membantu dalam pemerintahannya. Firman Tuhan sama sekali tidak melarang tindakan itu. Undang Undang juga tidak melarang seorang kepala daerah mengangkat adik atau kakaknya, sepupunya, iparnya, keponakannya untuk menjadi pejabat yang membantunya mensukseskan visi misinya. Selama orang yang diangkat itu memiliki pangkat dan golongan yang cukup serta memiliki kualifikasi dan kemampuan ? Tidak ada yang salah khan ? Demikian juga dalam hal pengadaan barang dan jasa pemerintah. Jika ada anggota keluarga kepala daerah yang memenangkan sebuah tender secara legal, karena ikatan darah dengan sang kepala daerah maka ia akan mengerjakan proyek itu dengan hasil yang terbaik. Tidak mempermalukan nama baik sang kepala daerah. Kepada masyarakat, media, LSM dan lain lain tak usahlah terlalu grasa grusu melihat fenomena seperti itu. Toh mereka para keluarga akan lebih loyal pada sang kepala daerahnya itu. Lagi pula bukankah para keluarga ini juga adalah orang orang yang berkorban juga untuk kemenangan dalam Pilkada ?

Sedangkan untuk para kepala daerah yang baru terpilih. Jangan hanya karena “tidak enak dan malu apa kata orang” anda mengabaikan hubungan kekeluargaan. Jabatan itu hanya singkat. Tidak lama. Waktu berputar begitu cerpat. Kita tidak tahu jalan hidup ke depan seperti apa. Mungkin saat ini kita sedang menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah, tapi Bisa saja suatu saat kita  masuk penjara, jatuh sakit dan tidak punya uang sama sekali. Maka mungkin saja pada saat itu, orang orang yang pernah  kita “hadiahi” jabatan dan proyek sudah lari meninggalkan kita karena sudah tidak berkuasa lagi. Bukankah saat saat seperti itu, hanya keluarga kita yang bisa diharapkan untuk menolong ?

Jangan sampai, suatu saat nanti kita atau anak cucu kita berada dalam kesusahan. Dan keluarga juga ikut ikutan menjauh dari kehidupan kita sambil berkata “Dulu dia pe orang tua tara kanal pa torang saat lagi jaya, jadi sekarang juga torang tara mau tahu juga dengan dia dan anak cucunya”.

Semoga yang seperti itu, tidak terjadi.

# Penulis adalah Mantan Ketua DPW Partai Damai Sejahtera Sulawwesi selatan dan Direktur LBH Rakyat Halut, berdomisili di Tobelo

By admin